Jumat, 22 Maret 2019

Aku belum dewasa

Usiaku saja yang sudah menjulang, tapi aku belum dewasa.
Belum menerima kepergian,
Belum menerima kehilangan,
Belum menerima kekalahan,
Dan
Aku juga belum menerima kenyataan bahwa sebenarnya aku sampai saat ini hanya seorang diri.
Setelah aku ingat kembali
Dahulu, kala itu.
Aku mungkin terlalu memaksa keadaan, terlalu bersemangat, dan yang paling ekstrim adalah terlalu berharap.
Hingga pada akhirnya aku berada di titik yang jatuh, jauh, juga pilu.
Karena apa, karena ulahku sendiri.
Ulahku yang terus menerus memaksakan hati yang sejatinya bukan untukku.
Hanya singgah, tapi aku kalah dengan menyikapinya panuh dengan rasa.
Aku salah, rasa yang aku miliki ini adalah asa asa yang ada di hati, yang akan menebar saat waktunya tiba dengan penuh keramahan dan (keutuhan cinta).
Tapi tetap saja aku salah,
Aku tidak bisa membuatnya mencintaiku.
Dan, lagi lagi aku kalah.
Mementingkan egoku.
Memaksakan kehendak.
Lagi lagi aku egois.
Lagi lagi aku salah.
Bahkan dalam urusan mencintai pun aku salah.
Aku belum dewasa. Karena aku manusia paling egois.

Selasa, 12 Maret 2019

Merindu Pagi pada Senja

Menjelang sore dan menanti senja saat itu.
Tak ada kegundahan dalam diri bahwa aku sedang dimana dan dengan siapa.
Apakah aku aman saat itu? 
Apakah aku bahagia kala itu?
Apakah kesehatanku baik-baik saja?
Apakah keuanganku selalu cukup?
Atau apakah aku masih bisa makan kala itu?

Semua tidak pernah terpikirkan, yang aku rasakan adalah kebahagiaan. Entah bahagia dengan alam dan bersamanya, atau bahagia jauh dari hiruk pikuk kota yang menggerahkan.

Sangat harmoni, ketika ketabahanmu, ketangguhanmu, dan semangatmu bersama orang yang penuh keegoisan ini. Aku merasa benar-benar di cintai olehnya. 

Oleh siapa? Oleh seseorang yang selalu menanti menjelang sore, dan dengan siapa?
Dengan aku yang selalu merindukan pagi.

Aku rindu, sungguh aku rindu kebersamaan denganmu. 

Rasanya jiwa dan raga ini mengawang-awang di atas langit yang masih tetap sama.

Apa kabar sang gatot kaca yang selalu kuat dan tangguh? 
Aku selalu merindukanmu. 
Walaupun jarak berada di depan mata, tapi hatimu saat ini tak lagi sama.

Aku masih sedang menggila menemani sunyi dan merindukan pagi.