Aku sedang menebak-nebak, kira-kira prosesi apa yang tengah kamu siapkan.
Kamu selalu tergila-gila pada prosesi.
Segala sesuatu harus dihantarkan dengan sempurna dan
terencana.
Perayaraan dan peringatan menyesaki kalender kita, sepanjang tahun.
Dan tidak pernah bosan bahkan kamu semakin ahli.
Malan ini kamu menantangku berhitung dengan stopwatch.
Telponku akan berdering tepat setengah jam lagi.
Sambil menunggu ijinkan aku berkelakar tentang kamu dan saya.
Sejak kepindahanku ke negara lain, kamu selalu terobsesi
dengan segala makhluk bersayap.
Aku ingin percaya,
Wahai waktu ada selamat ulang tahun yang
harus tiba tepat waktunya.
Ku sedia, ku
terjaga menantimu.
Dengan caramu mengagumkan
momentum kamu membuat aku ikut percaya.
Betapa sakralnya peluk
cium 14 februari atau tiupan tahun baru yang harus tepat pukul 00.00.
Namun iman ku pada arena
itu luruh dalam 1 malam.
Lihat detik itu, jarum jam
itu momentum yang tidak lagi berarti di titik pertama kamu lupa mengucapkan
ulang tahun.
Harusnya ini sudah terjadi
5 menit yang lalu.
5 menit yg lalu.
Aku tidak tahu kemalangan
jenis apa yang menimpa kamu hingga kamu tidak bisa menghubungiku.
Mungkin matahari lupa
ingatan, lalu keasikan terbenam hingga terlambar terbit.
Kiamat harus menyiapkan
tanda-tanda baru, bila masih ingin menjadi hari yang di antisipasi, dengan misal mengadopsi
absurditas yang terjadi malam ini.
Suatu waktu nanti saat kamu
berhenti percaya bahwa manusia bisa punya sayap.
Kemarin besok lusa atau
hari-hari sesudah itu aku masih disini menuggu kamu.
Mundurlah wahai waktu ada
selamat ulang tahun yang tertahan yang harusnya tiba tepat waktu.
Dan rasa cinta yang selalu
membara.
Kusedia, ku terjaga ,
menantimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar